short stories for bed time

August 27, 2007

center of change is not change

Filed under: Uncategorized — sky @ 8:06 am

Did you noticed that the only thing that didn’t change is change it self? Everybody loves changes, except for few people who doesn’t have any ambition or already at the top. But normally people do. Either it was good change or bad change. Simply put, there’s nothing constant in this universe, even the toughest material will collapse. Desire to change is usually very strong. Battling against the current condition and limitation, it would show who has the strongest will. Most people only noticed changes when it was 180 degrees, but changes will be meaningful if only that person felt it. It utterly useless if the changes doesn’t suit what the body thinks. So it would be meaningless if it revert back to before the changes.

I like changes. Seeing how this earth moves. Learning what creatures do to survive in this world. Observing their changes. The stagnant annoys me. But somehow the changes will effect me if it physical. Rather than having their color changed, I’d rather change them completely. Staring at these changes can make me stay still for ages. Even the slightest movement will attract my awareness. Thinking over every possibilities, logically and non logically. Using every sense to make sure all logical explanation was true. This is what makes me survive all this time. Maybe it would be simple to be called coward. But brave wasn’t going in charging head first to everything we encounter. I prefer to call it surviving.

There’s just one thing that would nullify all that theory. Center of a hurricane was stagnant. The eye of a hurricane is still. The whole hurricane was moving. The hurricane it self was moving towards the will in its heart. The wind was spinning, and affects everything in their path. But the eye was never changed. Am I just a little pebble that was dragged by the hurricane of destiny? Or was it the pebble that just staring at the current inside the eye?

I like changes. I’ve seen many changes. Good ones and bad ones. Am I not change at all?

April 18, 2007

mie ronde

Filed under: shorties — sky @ 3:51 am

Joni melangkah keluar dari kantor nya hari itu, menghela napas panjang ketika melihat hujan yang turun deras. Joni belum punya kendaraan sendiri, bis kota menemani perjalanannya tiap pagi dan sore, kadang ojek kalau ia terlambat. Halte bis yang berada tidak jauh dari kantor nya terlihat sepi, Joni tidak membawa payung, dan bis tidak akan berhenti kecuali ada orang di halte. Musim hujan begini, hampir setiap hari turun hujan waktu sore.
“tidak membawa payung lagi mas Joni?” Joni mengernyitkan mukanya, satpam yang satu ini memang baik hati, dia tidak akan meminjamkan payung nya, namun
“saya masih punya plastik kresek lo mas” sahutnya lagi
“oh iya, terima kasih” kemarin juga seperti ini, hasilnya sepatu Joni basah kuyup terkena hujan. Tidak ada payung, kresek pun boleh. Dibawanya kresek itu untuk melindungi nya ke halte, berharap langsung ada bis kota yang akan membawa pulang segera.

20 menit kemudian Joni masih di sana, terguyur hujan deras tanpa ada satu pun bis kota yang menyapanya. Joni beranjak dari halte itu menuju tempat berteduh yang lebih layak, dan yang paling dekat dari situ, sebuah warung mi jawa dengan tulisan ‘MI GORENG DAN RONDE PAK JUNI.’

Warung itu berbentuk huruf L dengan kursi kursi yang terjejer rapi, ada beberapa orang pembeli yang juga terlihat berteduh disana. Joni menduduk kan dirinya di ujung, dan tiba tiba saja sepiring mie goreng hangat terhidang di depannya.
“maaf pak, saya belum pesan” ucap Joni sambil mendorong piring mie ke samping.
“memang sampeyan belum pesan” kata penjual itu sambil mendorong kembali piring mie kearah Joni.
“tapi saya tidak…” piring mie disorong ke samping
“dicicipi dulu, nanti kalau tidak enak tidak usah bayar. Lagi pula hujan begini apa sampeyan tidak lapar?” Joni memandang penjual dan piring mie secara bergantian. Dan piring mie ditarik mendekat, ragu ragu Joni mencicipi mie goreng itu,
“enak” ucapnya kemudian. Ada perasaan hangat yang muncul ketika mie masuk ke dalam perutnya, menjalar ke hati kemudian ke seluruh tubuhnya. Perasaan yang aneh, pikirnya. Namun mie goreng tetaplah mie goreng, bukan payung atau bis kota yang akan membawa nya pulang ke rumah dengan kering.
“mie itu saya bikin sendiri lo mas,” Joni mengangguk mengiyakan sambil terus menghabiskan mie gorengnya
“sedang ada masalah di kantor ya?” Joni berhenti menyendok sejenak, kemudian meneruskan kembali makannya.
“saya sering lihat sampeyan nunggu di halte itu,” kali ini Joni tidak berhenti, dia cuma mengangguk pelan
“kalau hujan begini sering bawa plastik kresek ya?” Joni mendongakkan kepalanya, senyum mengembang di bibirnya dan dia mulai tertawa sendiri.
“saya dikerjai sama satpam, katanya biar tidak masuk angin kepalanya ditutup kresek. Saya sih lebih percaya pakai plester di udel,”
“besok saya harus presentasi” kata Joni kemudian,
“seharusnya si Hari yang maju, tapi dia ambil cuti, istrinya melahirkan”
“susah presentasinya?”
“bukan presentasinya, tapi klien nya” Joni mencomot krupuk udang yang ada di kaleng krupuk
“klien yang ini banyak maunya. Kalo dia tidak suka, bakal ditolak. Dan atasan saya pasti marah besar, katanya saya tidak becus.”
“nama saya Juni” Joni berhenti mengunyah krupuk nya, sedang curhat malah ngajak kenalan.
“saya sudah tau, dari nama warung ini.”
“iya memang, tapi tidak sopan kalo menanyakan nama orang tanpa menyebutkan namanya.” Joni tersipu malu dan mengelap tangan nya di celananya.
“duh maaf pak. Saya Joni” Joni mengulurkan tangan nya dan Pak Juni menyalaminya.
“kamu ini jorok ya, Jon?” Joni tertawa.

Ketika suap terakhir dihabiskan, Joni mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya, mengelap mulutnya dan tangannya, kemudian mengeluarkan dompet.
“berapa Pak Juni?” Pak Juni menjawab dengan menyodorkan semangkuk hangat ronde. Joni termangu. Hujan sudah berhenti dan hari semakin sore. Sebaiknya dia segera pulang dan menyiapkan presentasi untuk besok.
“tugas saya belum selesai, coba dulu ronde nya. Kalo yang ini pasti enak” aroma kuah jahe tercium dari mangkok, dua buah cendol tenggelam didalamnya, taburan kacang tanah dan kolang kaling mempercantik penampilannya. Joni cuma terdiam, tidak bisa berkutik. Orang yang satu ini memang nyentrik, memotong pembicaraan tidak pada tempatnya, dan suka memaksakan sesuatu yang pasti enak. Bahkan klien yang akan dihadapinya besok kalah jauh dibanding Pak Juni, ada aura aneh yang memancar darinya. Seakan tidak bisa dilawan dengan kata kata, namun memberikan pengaruh yang langsung mengena di hati.
Joni kembali memandang mangkok ronde tersebut, menarik nya mendekat kearahnya.
“awas panas” kata Pak Juni tiba tiba. Joni mengaduh, meniup jari nya.
“mangkoknya saya panaskan, biar tetap hangat,” Pak Juni mendorong mangkok ronde itu tanpa merasa panas. Joni sekali lagi terheran heran.
“ayo dicoba” sendok pertama, kuah jahe hangat memberikan sensasi berbeda dari mie goreng tadi, kali ini perasaan hangat yang menenangkan. Sendok kedua, manisnya kuah jahe dipadu dengan kolang kaling yang lembut dan kacang tanah yang garing, sensasi ironi. Sendok ketiga, sebutir cendol dengan isi yang terasa manis.
“sudah merasa enak?” Joni tidak bisa menjawab, pikiran nya masih terpaku dengan ronde ajaib di depannya.
“mie goreng yang tadi ibaratnya masalah yang kamu hadapi, ruwet. Tapi memberi energi kehidupan. Kalo kamu memakan nya sepotong sepotong lama lama habis juga.” Joni cuma mengangguk diam, dipandanginya orang tua bijak dihadapannya.
“ronde itu lain lagi ceritanya. Mangkok panas adalah resiko yang harus diambil ketika mencoba hal yang baru. Kuah jahe membuat tubuh kita menjadi tenang. Kolang kaling dan kacang tanah adalah hambatan yang kita hadapi sehari hari, ada yang enak dan ada yang tidak. Sedangkan cendol yang manis adalah hadiahnya.” Joni masih terdiam meresapi kalimat kalimat Pak Juni.
“kamu tidak usah bayar, tugas saya sudah selesai. Sekarang kamu pulang.” Joni tidak bisa menjawab, dibawanya tas kantor yang ada disamping nya, dan berjalan menuju halte bis, sebuah bis kota telah mengunggu nya untuk mengantarnya pulang.

***

Sore itu Pak Juni sedang melayani pengunjung warung nya seperti biasa, ketika terdengar suara seseorang,
“Pak Juni, pesan mie goreng dan ronde nya!” Pak Juni tersenyum simpul, Joni duduk di ujung seperti kemarin, dengan wajah yang berseri seri. Sebentar kemudian sepiring mie goreng dengan semangkok ronde terhidang di hadapan Joni.
“bagaimana presentasi nya?”
“ruwet. Tapi bisa saya atasi” Pak Juni cuma tersenyum kecil. Joni terus melahap mie goreng nya.
“sebenarnya Pak Karman yang menyuruh saya membantumu,” kali ini Joni benar benar terhenyak. Pak Karman adalah satpam yang memberinya plastik kresek tempo hari.
“dia bilang kamu sedang ada masalah. Dan plastik kresek itu tanda dari dia kalau orang itu kamu.” Joni membuka tas nya dan mencari kresek yang didapatnya dari Pak Karman, plastik itu bertanda ‘MIE GORENG DAN RONDE PAK JUNI’ bisa bisa nya dia tidak pernah sadar tentang tulisan itu?
“sablon itu saya bikin sendiri lo” seru Pak Juni.

Selesai makan mie goreng dan ronde, Joni mengacungkan jari nya keatas
“ada apa?” tanya Pak Juni sambil melongok ke atas
“saya tau kenapa cendol nya cuma dua” kata Joni
“oh ya?”
“supaya orang yang ketagihan dengan ronde bapak bisa minta semangkok lagi” Pak Juni tertawa
“tunggu sebentar, saya siapkan” ketika Pak Juni kembali dengan semangkok ronde ditangan nya, Joni sudah tidak ada di tempatnya, selembar amplop terjepit di mangkok ronde di meja, amplop itu berisi uang seratus ribu dan secarik kertas bertuliskan terima kasih.

March 27, 2007

Ambrosia Saga – chapter I

Filed under: series — sky @ 3:51 am

I Third Storm

Crissant Village, sebuah desa terpencil di sebelah selatan Urnia Continent, terlindung sempurna oleh Cresent Mountain, dengan hanya sebuah gerbang masuk di utara desa. Seorang anak tampak bertengger di sebuah dahan pohon di atas bukit, memicingkan matanya pada jalan masuk desa dengan mata tajamnya, berharap sesuatu yang diharapkan dan ditunggunya muncul. Anak itu bermata biru, berumur sekitar 12 tahun, rambutnya hitam dan meskipun tubuhnya kecil namun terlihat mempunyai kekuatan tersembunyi yang menunggu untuk dibangkitkan. Disekitarnya terdapat hewan hewan kecil yang sedang melakukan tugasnya masing masing bagi dunia, dan anak itu tidak terusik meski suasana cerah hari itu dapat membuat orang terlelap dalam sekejap.
Sesaat kemudian binatang binatang mulai terusik, anak itu bergerak, memicingkan mata, dan secepat kilat melompat turun dari dahan, menuruni bukit dengan mengembangkan tangan seakan terbang mengepakkan sayap, menuju gerbang desa. Seorang lelaki tua dengan peci berumbai, menuntun seekor keledai dibelakangnya, menaungi matanya untuk melihat kepulan debu yang mendekatinya. Bayangan hitam diujung kepulan asap itu melompat tinggi diiringi teriakan keras “Quint!” Tepat jatuh diatas pemilik keledai, anak itu terengah engah tapi kecewa, karena lelaki itu bukan yang selalu ditunggunya setiap hari di pohon itu, bukan yang diharapkannya selama 2 tahun ini untuk kembali, bukan orang itu, cuma seseorang lagi yang salah disangkanya.
“Billie! Billie! Kakakmu! Cepat!” Anak itu menoleh menuju suara yang memanggilnya “Tolong! Tolong aku! Anak ini pencuri!” Orang tua asing yang masih tersungkur berteriak, “Urus dia!” seru anak itu seraya melewati pemanggilnya dan sekali lagi berlari mengepulkan asap. “Anda tidak apa apa Tuan? Anda pedagang? Maafkan anak itu Tuan, dia cuma anak nakal” Pemanggil itu terkejut karena tiba tiba pedagang asing berlari “dua orang pencuri mencoba membunuhku! Tolong!” dengan cekatan menahan Tuan pedagang, si pemanggil berkata “tunggu sebentar Tuan, kami bukan penjahat, kami penghuni Crissant Village, Tuan baru pertama datng kemari, ya?” “bukan penjahat?” tanyanya meyakinkan
“benar Tuan, kami bukan penjahat, kami penghuni Crissant Village, selamat datang di desa terpencil kami. Mari saya antar anda dan akan saya ceritakan tentang desa kami yang indah ini.” “bukan penyamun?”
“saya kira Warriv yang biasanya berdagang di desa terpencil kami Tuan, dimanakah gerangan dia?” “bukan perampok?”
“anda mau jadi korban perampok?!” “Ah, Warriv! Aku ingat, dia menghadiri pernikahan sepupunya di Tul Loghein, dan dia menyuruhku menggantikannya sementara berdagang di Crissant Village, senang berbisnis dengan anda. Sekarang, ceritakan tentang desa anda”
“Baik. Desa kami ini dibangun oleh…ah, lupakan soal sejarah, yang penting desa kami ini sangat nyaman untuk ditinggali, kami bertani untuk hidup, meskipun kami juga sering berburu, desa kami yang terpencil membuat perdagangan sulit untuk mencapai kami, namun sejak Warriv datang beberapa tahun yang lalu, kami perlahan lahan mulai mengenal dunia, biasanya kami harus menempuh jarak yang jauh untuk memenuhi kebutuhan kami, dan aku tidak bisa membayangkan seberapa sulitnya perjalanan Warriv, dijamin anda pasti suka dengan desa kami”
“benarkah? Tidak ada perampok?”
“tidak ada, pemuda pemuda sepertiku sudah terlatih berburu, jadi sedikit banyak kami bisa melawan perampok yang akan menyerang desa”
“tidak ada penyamun?”
“saya berani jamin itu, seperti yang anda lihat kami mempunyai mata pengawas, anak yang menyerang anda tadi, matanya sangat tajam, dan dia sangat kuat, terkuat di desa ini”
“tidak ada…”
“anda ingin dirampok tuan?”
“jadi anak itu, hm… Fili?”
“Billie, namanya Billie”
“dia tampaknya mencari seseorang?”
“dia menunggu ayahnya, kata kakekku, sekitar 35 tahun yang lalu ada bayi yang dititipkan di depan gerbang desa, dengan hanya satu petunjuk ‘ZARUDO’ dan belum terpecahkan sampai sekarang. Kepala desa yang menemukannya, bayi itu diberi nama Quint, yang kemudian dirawatnya hingga kematiannya, kemudian Quint menikah dengan Fara, gadis dari desa ini, kata orang dia gadis tercantik saat itu, tapi aku belum lahir jadi aku tidak tahu secantik apa dia, yang jelas pasangan itu mempunyai dua anak, seorang perempuan yang diberi nama Liliam dan laki laki yang diberi nama Billie”
“dan apa yang terjadi padanya?”
“ketika melahirkan Billie, Fara meninggal, dan sejak saat itu pula Liliam mulai sakit sakitan, ayahnya telah berusaha sekuat mungkin untuk menyembuhkannnya, namun selalu gagal, dokter dokter desa tetangga (yang jaraknya tiga hari perjalanan) tidak ada yang tahu penyakitnya, obat obat berkhasiat, tumbuhan langka, malah membuat Liliam makin menderita. Sampai akhirnya Warriv datang, (dia yang membawakan obat obat berkhasiat dan tumbuhan langka) Warriv memberitahukan bahwa ada buah dewa, bernama Ambrosia, yang terdapat di sebuah pulau terbang yang hanya bisa dicapai melalui gunung tertinggi”
“Ambrosia?”
“ya, benar. Ambrosia. buah dewa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, menambah kekuatan melebihi manusia, dan berbagai macam keampuhan yang sangat luar biasa, seperti buah yang turun dari surga”
“jadi Quint pergi mencarinya?”
“tepat, dan sejak itu Billie selalu menunggu kedatangan Quint, di tempat dimana Quint selalu berada dulu, di puncak bukit cemara”

“Liliam, kumohon bertahanlah! Ayah sebentar lagi datang! Ayah akan membawakan Ambrosia dan kita akan bermain lagi, bertahanlah Lililam!” Billie berlari kencang dengan menahan tangis, “laki laki sejati tak pernah menangis” Quint pernah mengatakannya. Sesampainya di desa dia terus menuju sebuah gubuk kecil yang ada di seberang sungai kecil yang dibuatnya dengan Quint dulu. Didepannya sudah menunggu Hratli, nenek kepala desa yang meski sudah sangat tua namun masih tampak segar dan kencang kulit mukanya. Nenek itu tersenyum lega begitu melihat seorang anak yang namanya selalu diteriakkan oleh pasien yang ada di dalam gubuk itu, berlari kencang ke arahnya.
“Liliam tidak apa apa nek?” nenek itu tidak menjawab tapi langsung masuk kedalam, didalam gubuk kecil itu terlihat sangat banyak kenangan, kapal kapalan yang separuh jadi, taring binatang buruan, gambar Fara ketika muda, dan Billie bergegas setelah mendengar rintihan kakaknya. Liliam berada di kamar sebelah kanan, menghadap ke timur, karena dia sangat suka pada sinar mentari pagi. Di kamar itu hanya terdapat sebuah lemari besar, sebuah lemari kecil dan tempat tidur dengan seorang gadis yang terbaring pucat, merintih kesakitan oleh penyakit yang tidak diketahui penyebabnya.
“Liliam! Liliam! Aku di sini, ini aku adikmu, Billie! Liliam!” Billie menggenggam tangan kakaknya erat dan rintihan kesakitan itu perlahan melemah, dan kemudian Liliam terlihat tenang, Hratli memberikan segelas air putih dalam gelas pada Billie, yang kemudian di minumkan pada Liliam. Hratli mengganti kompres pada kepala Liliam dengan yang baru, Billie cuma memandangnya kemudian mengalihkan pandangan pada bunga Lily yang ada di dalam vas di atas meja, bunga kesukaan Liliam.
Hratli memandang menuju jendela dan kemudian tersenyum lemah “Wah, wah! tampaknya kita akan berpesta malam ini” yang dilihatnya adalah seorang anak sedang berbincang bincang dengan seorang tua yang menuntun seekor keledai berjalan menuju desa
“Ah, akhirnya sampai juga di Crissant Village!” seru penunutun unta
“selamat dat…” anak yang menuntunnya mencoba memberikan sambutan
“Tuan tuan dan nyonya nyonya! Marilah kemari! Barang barang bagus! Peralatan rumah tangga! Alat alat kebersihan! Perkakas kebutuhan anda! Semua ada di sini, di Elzix the trader! Silahkan melihat lihat! Semua harga murah meriah! Dijamin mutu oleh Warriv the traveler! (Dia temanku) mari tuan dan nyonya! Anda tidak akan kecewa!” sebentar kemudian seluruh penduduk desa sudah mengerumuninya, meski agak kecewa karena bukan Warriv, namun didesak kebutuhan yang sudah mulai menipis (biasanya Warriv datang seminggu sebelumnya) mereka langsung saja membeli semua barang barang dagangan, anak yang menutunnya cuma terbengong karena seekor unta kecil dapat membawa barang sebanyak itu. “Jeryhn! Kenapa bengong? Cepat bantu ibu mengangkut barang ini semua! Sebelum ibu kehabisan!” anak itu dipanggil ibunya “Ah, iya Bu!”

Setelah semua dagangan Elzix habis, Hratli datang menyambutnya, kata Elzix, (menurut Warriv) Hratli adalah wanita tercantik yang ada di desa, mereka berdua berbincang bincang di rumah Hratli, mengobrol tentang keadaan dunia luar saat ini hingga matahari sudah terbenam, katanya Elzix akan menginap di desa selama seminggu untuk beristirahat, jadi Hratli memberikan sebuah rumah yang biasa ditinggali Warriv selama istirahatnya. Malamnya Hratli memerintahkan agar diadakan pesta penyambutan bagi Elzix, lumbung dibuka (karena saat itu masih dalam suasana panen, maka persediaan makanan cukup melimpah) gentong minuman dikeluarkan, ibu ibu memasak, sedang bapak bapak menyiapkan api unggun dan berburu. Malam itu (seperti dikatakan Hratli sebelumnya) mereka berpesta pora. Pemuda dan pemudi bernyanyi dan menari dengan riang, bapak bapak dengan Elzix mencicipi minuman yang memang disiapkan untuk perayaan seperti ini. Kata Elzix dalam keadaan setengah mabuk
“aku ingat, sebelum pergi Warriv berkata ‘kurelakan masakan enak Crissant Village untukmu Elzix, namun bulan depan kau tidak akan mendapat kesempatan itu lagi!’ waktu itu kukira dia cuma bercanda, namun percayalah, bulan depan aku akan datang lagi kemari!” dan mereka tertawa bersama. Malam itu semua penduduk hadir kecuali seorang, Billie, Liliam dijaga oleh Hratli yang sesekali ikut berpesta. Billie masih berada di tempat kesukaannya, yang juga tempat kesukaan ayahnya, memandang bintang malam yang bersinar kelap kelip, sesekali terdengar keriuhan pesta di desa, setitik air mata menetes di pipinya, namun segera dihapusnya,
“laki laki sejati tak pernah menangis” gumannya. Dan dilangit muncul bintang jatuh, kata Hratli, jika kita berdoa saat ada bintang jatuh maka doa itu akan terkabul, sambil memandanginya
“kumohon Liliam sembuh dan ayah cepat pulang” Billie mengguman pelan.

Esok harinya semua orang bangun kesiangan karena mabuk semalam, kecuali anak anak yang hanya menari dan langsung tidur setelah kecapaian. Jeryhn seperti biasa mencari kayu hari itu, sampai ia mendapati dirinya berada dekat bukit cemara, langsung ia teringat Billie, dan berencana untuk mengajaknya bermain. Tapi disana Jeryhn tidak mendapati temannya itu, ia berpikir, apakah ada orang asing lagi? Seketika itu diletakkannya kayu bakar yang telah di kumpulkannya dan berlari dengan mengembangkan tangan seperti dilakukan Billie, sekejap menuju gerbang desa di utara. Setelah berlari beberapa ratus meter kecepatannya menurun, ia terengah engah
“huh, pemuda pemuda sepertiku sudah terlatih berburu?” tanyanya pada diri sendiri, teringat saat ia berkata seperti itu ketika berbicara dengan Elzix. Perlahan kemudian tenaganya dikumpulkan kembali, dan berjalan perlahan, ternyata Jeryhn kembali kecewa, tidak ada Billie di sana,
“anak sialan! Sudah susah susah dicari, kenapa sekarang dia-nya tidak ketemu?” dan dengan kepala tertunduk dia berbalik menuju ke bukit cemara, tapi ia berhenti sejenak,
“jangan jangan dia…” pandangannya dialihkan menuju bukit cemara, dan dilihatnya bayangan kecil bergerak gerak diatas sana, tersenyum simpul Jeryhn mulai berlari,
“Billie, awas kau ya!”

Di gubuk kecil tempat Elzix menginap, sebuah bayangan tampak mengendap endap seperti pencuri, berusaha mencuri dengar apakah orang didalamnya sedang terlelap, dengan sangat perlahan bayangan itu berjalan menuju pintu, tiba tiba pintu terbuka dengan keras disertai teriakan
“selamat pagi Crissant!” menahan sakit dimukanya bayangan itu merangkak perlahan menjauhi gubuk itu, dan ia berhenti ketika Elzix secara tidak sengaja mengetahui keberadaannya,
“lho? Kamu Jilli kan? Anak yang…” keduanya terkejut ketika Elzix berteriak
“Rampok! Pencuri! Penyam…” bayangan itu sudah membekap mulutnya dengan sangat cepat dan perlahan menyeret orang tua itu ke belakang gubuk, disana orang tua yang meronta itu dilepaskan
“ampuni aku! Akan kuberikan semua hartaku! Tapi tolong jangan bunuh aku! Ampun!” Elzix memohon.
“bukan Jilli, tapi Billie” seru bayangan itu.

Jeryhn tampak memanjat pohon cemara dengan sangat susah payah, Billie tidak ditemukannya di mana mana, maka ia putuskan untuk melihat melalui ‘menara pengintai’ kepercayaan Billie. Walau dengan lecet di seluruh tubuhnya, Jeryhn berhasil melihat keindahan pemandangan desa yang selalu dilihat Billie, ia senang tapi juga sebal
“Billie! Dimana kau!” teriaknya keras. Kemudian dengan putus asa ia turun dan kembali mengumpulkan kayu bakar yang berserakan, gumannya
“bagaimanapun aku harus membalasmu!” dan ia berlari menuju desa.

“Ah, ya benar! Killi bukan?”
“Billie dan aku bukan perampok”
“Milli? Dan kau pencuri?”
“Billie dan aku bukan pencuri”
“Dill…”
“Billie! B! B! B! B!” teriaknya keras tepat di telinga Elzix
“oh, Billie. Ya, ya, aku sudah mendengar ceritamu, kau menyangkaku sebagai ayahmu bukan? Temanmu yang menceritakannya. Kudengar ayahmu mencari buah dewa, hm… Camolia?”
“Ambrosia”
“Barosia? Sepertinya kemarin tidak seperti itu kedengarannya”
“terserah” guman Billie
“lalu, apa yang kau inginkan dariku? Barang barangku sudah habis terjual, atau kau mau merampokku?”
“informasi. Ketika Warriv datang, ayah tahu tentang Ambrosia, dan kuharap kau sebagai pedagang juga membawa sebuah atau dua informasi yang berguna”
“informasi? Kau melakukan itu tadi semua cuma hanya kau ingin bertanya padaku? Yang benar saja! Masakan kamu tidak tertarik untuk mencuri uangku? Kamu kan pencuri”
“aku bukan pencuri pak tua!”
“pencuri!”
“bukan!”
“pencuri!”
“bukan!”
“penc…”
“jangan bercanda! Nyawa Liliam taruhannya!” bentakan tadi menghentikan perdebatan yang tidak ada gunanya itu, sejenak mereka berdua terdiam, memandang melalui mata masing masing, menatap tajam ke arah lawannya. Sejenak kemudian Elzix mulai merajuk, matanya berair dan mulai terisak.
“huh, tidak berguna!” Billie beranjak pergi,
“tunggu! Aku benar benar minta maaf! Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, aku benar benar…” Billie cuma menengok sedikit padanya
“lalu?” tanyanya,
“aku tidak punya” kali ini Billie menoleh,
“tidak punya?” Elzix bangkit berdiri dan berjalan menuju Billie, (air mata buaya-nya segera hilang)
“aku tidak punya informasi yang kau butuhkan. Aku ini seorang pemabuk yang hanya meringkuk dalam sebuah bar menuju bar lainnya. Aku bahkan baru pertama mendengar tentang buah dewa itu, meskipun di bar banyak rumor beredar, tapi baru pertama ini kudengar buah seaneh itu. Ditambah lagi Warriv tak pernah menceritakannya padaku. Mungkin dia pernah berkelana sebegitu jauh dan menemukan sebuah, tapi kalau dia hanya membawa informasi, kukira dia juga masih mencarinya” mendadak Elzix menjadi berwibawa dan tampak bersahaja.
“jadi… tetap saja tidak berguna” keluh Billie menghela nafas.
“tapi, apakah kau akan pergi seandainya kau mengetahui sesuatu tentang buah itu?”
“ya” jawab Billie pelan, dia memandang langit cerah dan menghela nafas,
“kalau ayah tidak berhasil, berarti aku yang harus meneruskan perjuangannya,aku tidak bisa hanya berdiam diri disini”
“lalu, siapa yang akan menjaga Liliam? Kau juga harus memikirkan tentang hal itu. Kudengar dari Hratli, Liliam hanya memanggil namamu, dan hanya bisa tenang apabila kau ada di sampingnya”
“Hratli dan penduduk desa akan menjaganya untukku, dan tampaknya Jeryhn menyukainya”
“kau yakin dia akan senang dengan hal itu? Liliam adalah wanita, dan wanita mempunyai hati yang rapuh, kau yakin ia tidak akan apa apa setelah kau tinggalkan?”
“jangan mendesakku! Bagiku juga berat meninggalkannya, tapi…” kepalan tangan Billie mengeras dan menghantam dinding,
“tapi kalau begini terus dia…” Elzix mengangkat tubuhnya dan menatap matanya dalam dalam.
“kau bertugas menjaga Liliam dan ayahmu bertugas mencari buah itu untuknya, mungkin saja ia sedang dalam perjalanan pulang sekarang, membayangkan bahwa ia akan disambut dengan senyum Liliam, dan kau tidak bisa membayangkan kalau dia tidak menemukanmu dan mengetahui bahwa kau hanya membuang nyawa di luar sana bukan?” Elzix berkata dengan tatapan mata yang sangat dalam, dan menepuk nepuk pundak Billie
“jangan meremehkanku!” Billie menepis tangan Elzix, “aku sudah cukup kuat untuk melakukan perjalanan! Kau kira selama dua tahun ini aku tidak berlatih? Aku sudah terlatih! Aku yakin bisa menghadapi dunia luar sana!”
“ dan kau tahu kenapa ayahmu menyuruhmu menunggui Liliam? Karena dunia luar sana lebih liar dari yang kau bayangkan, nak. Lebih berbahaya dari yang kau pikirkan, kau bisa mati di tangan perampok, pencuri dan penyamun yang akan meninggalkanmu tegeletak mati tanpa daya”
“lalu bagaimana denganmu? Warriv? Kalian tidak mati, kalian masih bisa hidup dan menikmati hidup ini, sedang Liliam tidak!” sebuah pukulan keras mendarat di rahang Billie, membuatnya jatuh tersungkur di tanah, pukulan itu merobek bibirnya dan darah segar mengalir di mulutnya, kemudian kerah Billie ditarik, mengangkatnya tepat dimuka Elzix,
“kau kira berapa banyak uang kukeluarkan untuk menyuap mereka? Warriv pun melakukan hal yang sama, perjalanan ini sangat berbahaya, apalagi untuk anak lemah sepertimu!” Elzix melemparnya ke tanah seperti barang tidak berguna,
“kalau begitu antar aku! Ajak aku berkelana! Lakukan sesuatu! Kau tidak bisa membiarkan Liliam terus begitu kan?”
“aku mengajakmu hanya untuk mengantar nyawamu ke neraka? Hanya di dalam mimpimu, nak!” setelah itu Elzix beranjak pergi dan masuk ke dalam gubuknya meninggalkan Billie yang hanya termenung di bawah matahari yang semakin meninggi di atasnya, dia termenung di sana cukup lama, sampai Jeryhn menemukannya,
“Kena kau! Ketemu juga kamu anak nakal! Kucari kamu kemana mana ternyata kamu bersembunyi disini. Sudahlah, ayo main, kali ini akan kubuat kau menyesal telah mempermainkan Jeryhn the Great! Ayo, aku melayani permainan apa saja, ayo majulah! Apa saja, kecuali berkelahi, karena kau pasti menang, ayo! Hey, tunggu. Kenapa bibirmu?” Billie hanya menggeleng pelan, dan kemudian beranjak menuju tempat kesukaannya, bukit cemara.

“kau terlalu keras padanya” kata Hratli pelan ditengah hujan badai yang mengguncang hari itu, Elzix cuma bersungut. Sejak saat Billie mendapat pukulan keras dari Elzix lima hari sebelumnya, dia terus berlatih di bukit cemara untuk meningkatkan kemampuannya, berbagai latihan dilakukannya, mulai dari berlari mengelilingi desa, angkat beban, memukul batang pohon, berburu sampai bermain pedang. Tiga hari yang lalu badai mulai bergelora di desa Crissant, (karena itulah Elzix belum juga pulang ke kotanya)
“kukira aku akan tinggal lebih lama di sini” kata Elzix sambil memandang ke jendela yang tertampar angin ribut.
“kukira kau tahu bahwa badai akan datang, jadi kau sengaja menyuruhku tinggal dulu disini bukan?” sahutnya lagi,
“aku tidak tahu apakah kau benar benar pedagang atau bukan, Elzix. Karena biasanya Warriv pun selalu saja datang kemari tepat saat badai akan datang, entah dia sengaja atau tidak. Dan, apakah kau sengaja atau tidak?” Hratli memandang ke luar jendela,
“dia belum kembali juga, aku khawatir dia terlalu memaksakan dirinya untuk latihan yang berlebihan, apalagi saat badai begini, aku ingin membujuknya tapi…”
“cuma Liliam yang ia dengarkan saat ini, bukan?” Hratli semakin cemas karena sebuah pohon kembali tumbang di kejauhan, sudah sekitar sepuluh buah pohon tumbang sejak hari pertama badai, Hratli mengkhawatirkan seandainya Billie kejatuhan pohon itu, dan berdoa supaya Billie diberi keselamatan.
“Quint menitipkannya padaku” Hratli mandesah,
“dua tahun yang lalu, hari itu Warriv datang pertama kali kemari, katanya ia tidak sengaja lewat untuk menghindari perampok, dan kebetulan barang barangnya belum laku terjual, (tapi di sini barangnya langsung habis terjual) dan seperti yang Billie lakukan padamu, Quint langsung mengejarnya, mencari sedikit saja informasi yang bisa meringankan penderitaan Liliam” Hratli memandang Elzix,
“kau benar benar tidak tahu sesuatu?”
“tentang Ambrosia? Sama sekali belum pernah mendengar, mungkin saja rumor itu tidak benar benar ada, dan Warriv cuma membual”
“tidak, waktu dia menceritakannya padaku, dan pada Quint, matanya memancarkan kejujuran, dan matanya juga memancarkan rasa belas kasihan, ia benar benar sayang pada Liliam kurasa, ataukah ia punya pengalaman yang bisa membuatnya sayang pada wanita?”
“huh, jika dia mau menceritakan tentang kisah cintanya padaku pasti aku sudah tahu tentang buah aneh itu” Hratli mengrenyitkan keningnya,
“berarti dia menyembunyikannya, aneh, ketika dia menceritakannya pada kami dia tampak besemangat dan…”
“kecuali dia mengetahui sesuatu, dan tujuannya kemari adalah memang mencari tahu tentang buah itu, dan kecuali yang di carinya sudah ketemu, ia tidak akan menceritakannya pada orang lain…”
“berarti Warriv tahu sesuatu”
“apakah dulu Quint pergi bersama Warriv?”
“tidak, Quint pergi saat badai seperti ini, setelah dia berpamitan pada Billie dan Liliam, juga aku dan penduduk desa”
“menurutku Warriv mengikutinya, dan karena sibuk mengikutinya, dia tidak sempat kembali kemari. Warriv sudah mengikuti Quint selama dua tahun!”
“tapi kenapa dia bisa kembali kemari selama beberapa bulan kemarin?”
“dia menyewa penguntit, tidak mungkin dia bisa mengikuti seseorang selama itu, tapi mungkin tahun ini penguntit itu mulai terlalu banyak tahu, dan terpaksa Warriv mengikutinya sendirian, dan menyuruhku menggantikannya kemari. Benar benar rencana yang sangat brilian!”
“kukira tadi itu semua cuma perkiraanmu saja” sahut Hratli
“tidak, separuhnya tadi cuma perkiraan, tapi soal dia menghadiri pernikahan sepupunya itu…”
“apa maksudmu?”
“dia tidak suka kerumunan banyak orang, dia hidup menyendiri, dia hanya mempunyai teman pemabuk sepertiku yang suka menganggur di bar, dia bahkan tidak menghadiri parade festival tahun lalu!”
“kalau begitu…”
“kalian sudah di tipunya. Penjahat licik itu memang…”
“tunggu, Quint pergi saat badai hari ketiga! Ya ampun! Jangan jangan Billie…”
“kita harus cepat mencarinya!”

Double D

Filed under: unknown — sky @ 3:37 am

“Hai, muk! Ikut sarapan juga ya?” tanganku bergerak perlahan, pandanganku tak lepas darinya…..PLAK!
“Wah, kenyang banget lo ya?” seekor nyamuk terlentang di tanganku, berlumuran darah. Mati syahid pikirku, nggak perlu dimandiin. Kuusap tanganku, dan meneruskan sarapan yang biasa kumakan setiap hari. Nasi, mie, telor. Tapi ada yang tidak biasa hari itu, karena seharusnya ‘bangun tidur kuterus sikat gigi, tidak lupa mencuci muka, habis itu kuterus mandi, lalu pergi kuliah pagi.’ Yang terganggu oleh tidak terbukanya kamar mandi
“waduh, masa gue keduluan sih? Hoi, yang di dalam! Keluar cepat! Kalau nggak gue bom nih!” pintu terbuka, gertak sambal tepat mengena. Lucunya, yang keluar cewek. Lho? Gue masih ngimpi apa salah tidur nih? INI KAN KOST-KOST-AN COWOK! Cewek itu berjalan menuju kamar paling pojok, diiringi teriakan anak-anak kost lain dari lantai satu
“pagi, Donna!” kaya iklan kopi aja nih. Seperti biasa gue cuek bebek, istilahnya tu cewek masuk ke sarang penyamun, rada gila kali?

Hm…binder, notes, bolpen, tip-ex, pensil, setip, udah semua. Gue siap kuliah nih. kunci pintu, tengok kanan kiri, taruh kunci di ventilasi pintu, beres.

“dasar mlarat! Minta dibeliin motor kek! Naik sepeda kek! Naik bis kek! Jalan kaki dong! Sehat!” umpatan yang sudah biasa. Dan jawabanku pun biasa.
“ah, jangan gitu kek, kita kan satu kost kek, hemat bensin kek, sama teman masa gitu kek.” Gue langsung aja naik ke motornya Ijo’, motor vespa tua yang dipoles dengan warna kuning (norak bener sih?) walau dengan beberapa bercak berwarna putih. Ceritanya dulu mau di ganti warna kuning semua, tapi karena kurang duit vespa-nya ditarik dari bengkel sebelum selesai dipoles, jadilah vespa motif sapi.
“satu dua kali tak masalah kek, tapi kalo lebih? Ada argonya dong….kek!”
“udah ah! Cepat berangkat, udah laper nih!” hidup hemat, moto keluarga kami. Nebeng pulang kuliah? Oke. Bertamu dan minta makan? Ah, nggak pa-pa!
“Ijo`, lu tau nggak kalo ada cewek di kost kita?”
“oh, dia ponakan ibu kost kek. Cakep ya? Namanya Donna. Herannya, jurusannya sama ama lo. Biologi” Ijo’, teman satu kost yang suka ngomong dengan embel-embel ‘kek’ entah dari mana dapetnya, mungkin waktu ibunya ngandung ngidemnya tekek?
“kok gue nggak ketemu tadi?”
“terang aja. Dia kan S1”

“matur suwung sanget inggih mbah Ijo`” ucapan thank you-ku yang khas.
“mbayar pake apa? Tunai? Traktir? Gue trima kredit kek, tenang aja” sambil masukin motor ke garasi tetep ngoceh aja.
“tanda tangan gue dan sun pipi, mau?” langsung kumoncongkan bibir gue.
“gila lo kek! Udah, anggap gratis kek” dia bergidik.

Pengin tidur, satu hal yang terlintas di pikiranku. Tapi aneh, kuputar knop pintu yang ternyata terbuka. Emang tadi belom ku kunci? Anehnya lagi, seorang cewek tertidur di kasur gue.
“hng? Udah pulang ya?” Donna yang itu, lagi ngolet dan menguap.
“HEY! Lu ngapain DISINI!” kutuding dia layaknya terdakwa di pengadilan.
“numpang tidur bentar, kamar lain nggak ada yang punya kasur. Ikhlas ya?” dengan santainya dia berjalan keluar.
“ikhlas apanya! Lu masuk tanpa izin lagi. Eh, lu masuk lewat mana lagi?”
“pintu, lagian kunci ditaruh diatas. Goblok bener sih lu. Ngundang maling aja. Tapi kayaknya nggak ada yang bisa dimaling deh” ya ampun, udah salah, nggak ngaku, ngegoblok-goblokin orang lagi.
“APA!” kemarahanku sudah sampai di ubun-ubun, tinggal nyemburnya aja tuh.
“oalah, Donna, lu disini toh?”
“iyalah, jangan pada cemburu yah!”
“tapi hebat lu, bisa bikin panas orang”
“panas. 1000 derajat celcius”
“nggak, kelvin aja!”
“kelvin kostner maksud loe?” ya ampun, anak-anak udah ngumpul di pintu, ngrumpi, pake bercanda lagi. Sialan, nggak tahu orang lagi mau meledak!
“maapin deh, besok nggak lagi kok” Donna cuek aja dan pergi.
“KELUAR! KE – LU – AR!” gue berkoar-koar.
“Niel, sprei punyamu yang bekas Donna tadi, gue pinjem dulu ya” Rino nyaut disambut anak-anak lain, berebutan.
“KE – LU – AR kalian semua!”

Hari berikutnya,
“nih, coklat. Mumpung gue lagi baek nih, dan mumpung lagi valentine. Maapin yang kemarin yah” Donna menaruh sebatang besar coklat Tobblerone -yang harganya GILE untuk anak kost- tergeletak di depanku, sarapan model baru nih. Nasi, mie, telor, coklat.
“oh, minta maap nih?” keras kepala gue maju lagi.
“ah, Daniel. Jangan gitu dong. Lu, kalo cemberut jelek loh” senyum lebar terpasang di wajahnya. Manis juga ternyata. Tapi…
“yah, ngrayu lagi. Emang gue cewek?” huh! Tiada maaf bagimu.
“ya udah lah. You’ll never know ‘til you have tried. In the end, my effort will worth something. Lu mau coklatnya nggak?” yang gue ngerti cuma kalimat ‘lu mau nggak?’ tapi gue PeDe aja, mungkin tadi artinya ‘maapin gue dong!’
“eh, mau….mau”
“nah, gitu dong! Jadinya gue dimaapin kan?” sekali lagi senyum manis itu terpampang di wajahnya yang manis juga.
“iya deh, demi Tobblerone” walhasil kami berbaikan, kubuka coklatnya, kubagi dengannya –kalo dapet cewek semanis dia kan lumayan!-.
“eh ngomong-ngomong, Valentine apaan sih?” gue bertanya.
“tauk, hari kasih sayang kali”

Jendela

Filed under: shorties — sky @ 3:29 am

Aku melihat melalui jendela rumahku. Memandang menerawang jauh. Jendela adalah penghubung antara apa yang didalam dengan apa yang diluar. Berbeda dengan sebuah pintu, kita tidak bisa melihat melalui pintu namun kita berjalan melalui pintu. Sedangkan kita bisa melihat melalui jendela namun tidak bisa berjalan melalui jendela. Kecuali kalian menggunakan jendela sebagai pintu, berarti kalian berjalan dengan mata dan melihat dengan kaki.

Aku melihat melalui jendela rumahku. Dari jendela tersebut dapat kulihat hal hal yang terjadi di dunia ini. Dan setiap jendela akan memperlihatkan hal hal yang berbeda. Dan pemandangan tersebut juga akan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Pemandangan yang kulihat dari jendelaku adalah hujan di tanah lapang dengan tanaman liar dan sampah daun yang bertumpuk tumpuk. Hanya tanaman pagar ibuku yang dirawat dengan rapi sebagai pemanis mata. Hal yang kulihat melalui jendela juga berganti seiring dengan jendela yang berganti. Pernah kulihat tanaman yang hijau. Pernah kulihat jalan setapak. Pernah kulihat tembok yang hijau oleh lumut. Pernah kulihat tembok yang menutup jendela. Semua hal tersebut juga berkembang dengan waktu. Tanaman tumbuh. Berkembang dan berbuah. Berbiji dan bertunas. Sampah yang bertumpuk berubah menjadi abu. Dan rumah yang dibangun dan dihancurkan rata dengan tanah.

Aku melihat hujan melalui jendela rumahku. Melihat tetesan air yang luar biasa banyaknya jatuh dari langit. Membasahi bumi dengan kesegaran. Daun daun tanaman bersyukur dengan menengadahkan kepalanya. Saatnya bekerja! Ketika tidak ada air mereka sedikit bekerja, mempertahankan hidup mereka demi makhluk bumi. Dan ketika air tertumpah dari langit mereka bersuka cita. Menghasilkan energi penggerak bumi dengan seisinya. Menunggu matahari muncul dari balik awan. Mengubah karbondioksida menjadi oksigen. Menyimpan energinya dalam daun, akar, buah, bunga, bahkan batang.

(continued)

Second

Filed under: shorties — sky @ 3:17 am

I hate it when some one asking me some thing that I didn’t know, some time they think I know every thing. Yet of course, I’m no superman, or smartians (some one who know every thing). There is no need to be a hero, or you can say, there is no such thing as hero, a man who knows every thing. All you need to be is your self, having capabilities of some thing, and add your personalities on top of that. I’m rather contradictious with that, cause I take what people said, what people do, then mix and modified that with my taste. There are some people will yell at me saying that is not right, you must have self-confidence, don’t be a reflection from other people. Can you be your self without seeing some one? Without seeing how to eat and you can eat? Without seeing how to ‘pup’ and you know how to ‘pup’? We should always see to be able to grow, the sense that human have are used for that. So that we don’t have to study anymore to be able to do some thing. Do we have to do food gathering before we can do food producing? Believe it or not, humans always inherit something to their children, just like animals. We always believe that animals don’t have brains, they just doing their natural instinct, feed and breed. We humans do the same, the only difference is the thing that we inherit, knowledge. I do exactly the same, I inherit what people do, what people say, and rather than doing the same thing, I modify it to my liking. I’m not a mirror, I’m not a parrot. But I’m a machine, a living-breathing machine that called a brain, alive with a heart and controlled with a soul.

Ego. Something that makes humans equals to animal. Why? Because human without ego will be like colors without red, green, and blue. Blank. Just white and black. Lifeless. Why animals have ego? Cause they have nothing better to do than just feed and breed. Tell me, if you think chimpanzee is close to human in their brain, would you call them smart if we humans not smarter then them? Chimpanzee also does something like other animal do, feed and breed. They just do it differently. They use their ego to choose which one is better survival from others. We do the same. Just like me. Though I’m not a hero, not someone who knows everything, I also want to be looked upon. I also have ego to attract people aside me. To make people trust me. The contrary comes if I attract too much people with my ability of modifying what other people say, at the cause they ask me too much, I will get frustrated. I will then starting to think of what they say, have a confidence, don’t be a parrot. I don’t think that as a good solution. I’d say that I better study more, listen more, and modify more. So that I know more things, so that I can answer their question when they ask me, though I’m irritated.

The point is, I don’t like to be first, nor the last. I’d better be the second, having someone above you is comforting, and having someone below you is convenient. Gaining trust is important, but let it go after a while or they’ll make you the number one. Searching for friends is always nice, but don’t let them down too much or they’ll leave you. Living in a world where people count on you is a burden. Even more heavy when you don’t have someone above you to lend their shoulder. Running is not an option, I’ve tried it so much that I’m sick of it. The only thing you lose is to disappoint someone. It’s a sacrifice that you should take, sometimes they even help you if you’re nice. It’s an equal trade. Does that mean I’m always not giving my fullest? Well I’m not a hero, and I’m still learning. What you know now is something that modified by people before you, be thankful. Lets modify even much more, and create a world where everyone carries the same burden.

Athrain Sky
Billie D Zarudo
July 26, 2006

Putih

Filed under: shorties — sky @ 3:15 am

Putih, warna yang biasa di konotasikan dengan bersih, suci, murni, dan bebas dari segala keburukan yang ada. Putih juga sering disandingkan dengan cahaya. Karena cahaya berwarna putih. Walaupun di gambar anak kecil biasanya cahaya berwarna kuning. Mungkin dari sinilah muncul kebaikan dari warna putih, dimana cahaya adalah kebenaran dan kegelapan adalah kejahatan. Doktrin? Bisa jadi. Cahaya yang berwarna putih sebenarnya adalah gabungan dari tujuh warna yang biasa kita lihat ketika pelangi muncul. Mejikuhibiniu. Seperti yang biasa dihapalkan oleh anak kecil. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Lalu dimana hitam, atau yang sering dianggap lawan dari putih? Salah satu keajaiban alam. Ketika warna cahaya disatukan akan menjadi putih, sedangkan warna (bukan cahaya) disatukan menjadi hitam. Begitu pula dengan munculnya gelap (bayangan) ketika cahaya muncul. Dengan adanya benda yang menutupi cahaya, bayangan akan muncul.

Apakah benar putih lebih baik daripada hitam? Coba bayangkan, kita berada di sebuah ruangan yang berwarna putih semua. Kosong? Ya. tapi coba bayangkan kita berada di sebuah ruangan berwana hitam. Kosong? Tidak. Bahkan kita tidak tahu apakah ada sesuatu disana. Kenapa? Karena kita tidak bisa melihatnya. Gelap. Lalu mana yang anda pilih, kosong atau tidak kosong namun tidak bisa melihat? Tentu saja semua itu hanya perumpamaan. Dan tentu saja ada hal yang lebih baik dari itu semua. Hitam diatas putih. Tentu itu lebih baik.

Afraid

Filed under: shorties — sky @ 3:14 am

I was too afraid to write. There were too many things in my mind. Yet it never comes out as a paper. A friend of mine once said, “You’re the type of a thinker.” I always thought that as a compliment. So I do my things normally, but with one exception, I always think whatever I do. People will say I think too much. Slow thinker they said. I’ve read about that, people like me who always think whenever there is a problem will have their chance to survive higher. I only have to train how fast I think. Or maybe training my memory to store more things. Why? Because remembering require less energy than thinking of a new way. I’ve seen that. I’ve done that. Why I should think of a new way? Creativity is the spice of the world. Now the challenge is there are people see me doing that before? Usually I never care so much. But surviving this world is not just couple of days. So chances that it would blow up is higher more by the increase of time. So thinking is still necessary. They say using your brain a lot will decrease your chance to become useless old man when you’re ages. Does thinking unnecessary things counted? All of those books that sold out in the market were a result of unnecessary thinking. With a help of editors of course. Why would you make fiction story if you had other things to do? It’s the writer’s job. To think unnecessary things for other people happiness. And get paid for that. Isn’t writers job exiting? All you got to do is thinking unnecessary things and write it down. Yet it stills a difficult task. I was too afraid to write.

February 19, 2007

Shorties!!!

Filed under: beginning — sky @ 7:53 am

blog khusus shorties!
stay tuned!

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.