I Third Storm
Crissant Village, sebuah desa terpencil di sebelah selatan Urnia Continent, terlindung sempurna oleh Cresent Mountain, dengan hanya sebuah gerbang masuk di utara desa. Seorang anak tampak bertengger di sebuah dahan pohon di atas bukit, memicingkan matanya pada jalan masuk desa dengan mata tajamnya, berharap sesuatu yang diharapkan dan ditunggunya muncul. Anak itu bermata biru, berumur sekitar 12 tahun, rambutnya hitam dan meskipun tubuhnya kecil namun terlihat mempunyai kekuatan tersembunyi yang menunggu untuk dibangkitkan. Disekitarnya terdapat hewan hewan kecil yang sedang melakukan tugasnya masing masing bagi dunia, dan anak itu tidak terusik meski suasana cerah hari itu dapat membuat orang terlelap dalam sekejap.
Sesaat kemudian binatang binatang mulai terusik, anak itu bergerak, memicingkan mata, dan secepat kilat melompat turun dari dahan, menuruni bukit dengan mengembangkan tangan seakan terbang mengepakkan sayap, menuju gerbang desa. Seorang lelaki tua dengan peci berumbai, menuntun seekor keledai dibelakangnya, menaungi matanya untuk melihat kepulan debu yang mendekatinya. Bayangan hitam diujung kepulan asap itu melompat tinggi diiringi teriakan keras “Quint!” Tepat jatuh diatas pemilik keledai, anak itu terengah engah tapi kecewa, karena lelaki itu bukan yang selalu ditunggunya setiap hari di pohon itu, bukan yang diharapkannya selama 2 tahun ini untuk kembali, bukan orang itu, cuma seseorang lagi yang salah disangkanya.
“Billie! Billie! Kakakmu! Cepat!” Anak itu menoleh menuju suara yang memanggilnya “Tolong! Tolong aku! Anak ini pencuri!” Orang tua asing yang masih tersungkur berteriak, “Urus dia!” seru anak itu seraya melewati pemanggilnya dan sekali lagi berlari mengepulkan asap. “Anda tidak apa apa Tuan? Anda pedagang? Maafkan anak itu Tuan, dia cuma anak nakal” Pemanggil itu terkejut karena tiba tiba pedagang asing berlari “dua orang pencuri mencoba membunuhku! Tolong!” dengan cekatan menahan Tuan pedagang, si pemanggil berkata “tunggu sebentar Tuan, kami bukan penjahat, kami penghuni Crissant Village, Tuan baru pertama datng kemari, ya?” “bukan penjahat?” tanyanya meyakinkan
“benar Tuan, kami bukan penjahat, kami penghuni Crissant Village, selamat datang di desa terpencil kami. Mari saya antar anda dan akan saya ceritakan tentang desa kami yang indah ini.” “bukan penyamun?”
“saya kira Warriv yang biasanya berdagang di desa terpencil kami Tuan, dimanakah gerangan dia?” “bukan perampok?”
“anda mau jadi korban perampok?!” “Ah, Warriv! Aku ingat, dia menghadiri pernikahan sepupunya di Tul Loghein, dan dia menyuruhku menggantikannya sementara berdagang di Crissant Village, senang berbisnis dengan anda. Sekarang, ceritakan tentang desa anda”
“Baik. Desa kami ini dibangun oleh…ah, lupakan soal sejarah, yang penting desa kami ini sangat nyaman untuk ditinggali, kami bertani untuk hidup, meskipun kami juga sering berburu, desa kami yang terpencil membuat perdagangan sulit untuk mencapai kami, namun sejak Warriv datang beberapa tahun yang lalu, kami perlahan lahan mulai mengenal dunia, biasanya kami harus menempuh jarak yang jauh untuk memenuhi kebutuhan kami, dan aku tidak bisa membayangkan seberapa sulitnya perjalanan Warriv, dijamin anda pasti suka dengan desa kami”
“benarkah? Tidak ada perampok?”
“tidak ada, pemuda pemuda sepertiku sudah terlatih berburu, jadi sedikit banyak kami bisa melawan perampok yang akan menyerang desa”
“tidak ada penyamun?”
“saya berani jamin itu, seperti yang anda lihat kami mempunyai mata pengawas, anak yang menyerang anda tadi, matanya sangat tajam, dan dia sangat kuat, terkuat di desa ini”
“tidak ada…”
“anda ingin dirampok tuan?”
“jadi anak itu, hm… Fili?”
“Billie, namanya Billie”
“dia tampaknya mencari seseorang?”
“dia menunggu ayahnya, kata kakekku, sekitar 35 tahun yang lalu ada bayi yang dititipkan di depan gerbang desa, dengan hanya satu petunjuk ‘ZARUDO’ dan belum terpecahkan sampai sekarang. Kepala desa yang menemukannya, bayi itu diberi nama Quint, yang kemudian dirawatnya hingga kematiannya, kemudian Quint menikah dengan Fara, gadis dari desa ini, kata orang dia gadis tercantik saat itu, tapi aku belum lahir jadi aku tidak tahu secantik apa dia, yang jelas pasangan itu mempunyai dua anak, seorang perempuan yang diberi nama Liliam dan laki laki yang diberi nama Billie”
“dan apa yang terjadi padanya?”
“ketika melahirkan Billie, Fara meninggal, dan sejak saat itu pula Liliam mulai sakit sakitan, ayahnya telah berusaha sekuat mungkin untuk menyembuhkannnya, namun selalu gagal, dokter dokter desa tetangga (yang jaraknya tiga hari perjalanan) tidak ada yang tahu penyakitnya, obat obat berkhasiat, tumbuhan langka, malah membuat Liliam makin menderita. Sampai akhirnya Warriv datang, (dia yang membawakan obat obat berkhasiat dan tumbuhan langka) Warriv memberitahukan bahwa ada buah dewa, bernama Ambrosia, yang terdapat di sebuah pulau terbang yang hanya bisa dicapai melalui gunung tertinggi”
“Ambrosia?”
“ya, benar. Ambrosia. buah dewa yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, menambah kekuatan melebihi manusia, dan berbagai macam keampuhan yang sangat luar biasa, seperti buah yang turun dari surga”
“jadi Quint pergi mencarinya?”
“tepat, dan sejak itu Billie selalu menunggu kedatangan Quint, di tempat dimana Quint selalu berada dulu, di puncak bukit cemara”
“Liliam, kumohon bertahanlah! Ayah sebentar lagi datang! Ayah akan membawakan Ambrosia dan kita akan bermain lagi, bertahanlah Lililam!” Billie berlari kencang dengan menahan tangis, “laki laki sejati tak pernah menangis” Quint pernah mengatakannya. Sesampainya di desa dia terus menuju sebuah gubuk kecil yang ada di seberang sungai kecil yang dibuatnya dengan Quint dulu. Didepannya sudah menunggu Hratli, nenek kepala desa yang meski sudah sangat tua namun masih tampak segar dan kencang kulit mukanya. Nenek itu tersenyum lega begitu melihat seorang anak yang namanya selalu diteriakkan oleh pasien yang ada di dalam gubuk itu, berlari kencang ke arahnya.
“Liliam tidak apa apa nek?” nenek itu tidak menjawab tapi langsung masuk kedalam, didalam gubuk kecil itu terlihat sangat banyak kenangan, kapal kapalan yang separuh jadi, taring binatang buruan, gambar Fara ketika muda, dan Billie bergegas setelah mendengar rintihan kakaknya. Liliam berada di kamar sebelah kanan, menghadap ke timur, karena dia sangat suka pada sinar mentari pagi. Di kamar itu hanya terdapat sebuah lemari besar, sebuah lemari kecil dan tempat tidur dengan seorang gadis yang terbaring pucat, merintih kesakitan oleh penyakit yang tidak diketahui penyebabnya.
“Liliam! Liliam! Aku di sini, ini aku adikmu, Billie! Liliam!” Billie menggenggam tangan kakaknya erat dan rintihan kesakitan itu perlahan melemah, dan kemudian Liliam terlihat tenang, Hratli memberikan segelas air putih dalam gelas pada Billie, yang kemudian di minumkan pada Liliam. Hratli mengganti kompres pada kepala Liliam dengan yang baru, Billie cuma memandangnya kemudian mengalihkan pandangan pada bunga Lily yang ada di dalam vas di atas meja, bunga kesukaan Liliam.
Hratli memandang menuju jendela dan kemudian tersenyum lemah “Wah, wah! tampaknya kita akan berpesta malam ini” yang dilihatnya adalah seorang anak sedang berbincang bincang dengan seorang tua yang menuntun seekor keledai berjalan menuju desa
“Ah, akhirnya sampai juga di Crissant Village!” seru penunutun unta
“selamat dat…” anak yang menuntunnya mencoba memberikan sambutan
“Tuan tuan dan nyonya nyonya! Marilah kemari! Barang barang bagus! Peralatan rumah tangga! Alat alat kebersihan! Perkakas kebutuhan anda! Semua ada di sini, di Elzix the trader! Silahkan melihat lihat! Semua harga murah meriah! Dijamin mutu oleh Warriv the traveler! (Dia temanku) mari tuan dan nyonya! Anda tidak akan kecewa!” sebentar kemudian seluruh penduduk desa sudah mengerumuninya, meski agak kecewa karena bukan Warriv, namun didesak kebutuhan yang sudah mulai menipis (biasanya Warriv datang seminggu sebelumnya) mereka langsung saja membeli semua barang barang dagangan, anak yang menutunnya cuma terbengong karena seekor unta kecil dapat membawa barang sebanyak itu. “Jeryhn! Kenapa bengong? Cepat bantu ibu mengangkut barang ini semua! Sebelum ibu kehabisan!” anak itu dipanggil ibunya “Ah, iya Bu!”
Setelah semua dagangan Elzix habis, Hratli datang menyambutnya, kata Elzix, (menurut Warriv) Hratli adalah wanita tercantik yang ada di desa, mereka berdua berbincang bincang di rumah Hratli, mengobrol tentang keadaan dunia luar saat ini hingga matahari sudah terbenam, katanya Elzix akan menginap di desa selama seminggu untuk beristirahat, jadi Hratli memberikan sebuah rumah yang biasa ditinggali Warriv selama istirahatnya. Malamnya Hratli memerintahkan agar diadakan pesta penyambutan bagi Elzix, lumbung dibuka (karena saat itu masih dalam suasana panen, maka persediaan makanan cukup melimpah) gentong minuman dikeluarkan, ibu ibu memasak, sedang bapak bapak menyiapkan api unggun dan berburu. Malam itu (seperti dikatakan Hratli sebelumnya) mereka berpesta pora. Pemuda dan pemudi bernyanyi dan menari dengan riang, bapak bapak dengan Elzix mencicipi minuman yang memang disiapkan untuk perayaan seperti ini. Kata Elzix dalam keadaan setengah mabuk
“aku ingat, sebelum pergi Warriv berkata ‘kurelakan masakan enak Crissant Village untukmu Elzix, namun bulan depan kau tidak akan mendapat kesempatan itu lagi!’ waktu itu kukira dia cuma bercanda, namun percayalah, bulan depan aku akan datang lagi kemari!” dan mereka tertawa bersama. Malam itu semua penduduk hadir kecuali seorang, Billie, Liliam dijaga oleh Hratli yang sesekali ikut berpesta. Billie masih berada di tempat kesukaannya, yang juga tempat kesukaan ayahnya, memandang bintang malam yang bersinar kelap kelip, sesekali terdengar keriuhan pesta di desa, setitik air mata menetes di pipinya, namun segera dihapusnya,
“laki laki sejati tak pernah menangis” gumannya. Dan dilangit muncul bintang jatuh, kata Hratli, jika kita berdoa saat ada bintang jatuh maka doa itu akan terkabul, sambil memandanginya
“kumohon Liliam sembuh dan ayah cepat pulang” Billie mengguman pelan.
Esok harinya semua orang bangun kesiangan karena mabuk semalam, kecuali anak anak yang hanya menari dan langsung tidur setelah kecapaian. Jeryhn seperti biasa mencari kayu hari itu, sampai ia mendapati dirinya berada dekat bukit cemara, langsung ia teringat Billie, dan berencana untuk mengajaknya bermain. Tapi disana Jeryhn tidak mendapati temannya itu, ia berpikir, apakah ada orang asing lagi? Seketika itu diletakkannya kayu bakar yang telah di kumpulkannya dan berlari dengan mengembangkan tangan seperti dilakukan Billie, sekejap menuju gerbang desa di utara. Setelah berlari beberapa ratus meter kecepatannya menurun, ia terengah engah
“huh, pemuda pemuda sepertiku sudah terlatih berburu?” tanyanya pada diri sendiri, teringat saat ia berkata seperti itu ketika berbicara dengan Elzix. Perlahan kemudian tenaganya dikumpulkan kembali, dan berjalan perlahan, ternyata Jeryhn kembali kecewa, tidak ada Billie di sana,
“anak sialan! Sudah susah susah dicari, kenapa sekarang dia-nya tidak ketemu?” dan dengan kepala tertunduk dia berbalik menuju ke bukit cemara, tapi ia berhenti sejenak,
“jangan jangan dia…” pandangannya dialihkan menuju bukit cemara, dan dilihatnya bayangan kecil bergerak gerak diatas sana, tersenyum simpul Jeryhn mulai berlari,
“Billie, awas kau ya!”
Di gubuk kecil tempat Elzix menginap, sebuah bayangan tampak mengendap endap seperti pencuri, berusaha mencuri dengar apakah orang didalamnya sedang terlelap, dengan sangat perlahan bayangan itu berjalan menuju pintu, tiba tiba pintu terbuka dengan keras disertai teriakan
“selamat pagi Crissant!” menahan sakit dimukanya bayangan itu merangkak perlahan menjauhi gubuk itu, dan ia berhenti ketika Elzix secara tidak sengaja mengetahui keberadaannya,
“lho? Kamu Jilli kan? Anak yang…” keduanya terkejut ketika Elzix berteriak
“Rampok! Pencuri! Penyam…” bayangan itu sudah membekap mulutnya dengan sangat cepat dan perlahan menyeret orang tua itu ke belakang gubuk, disana orang tua yang meronta itu dilepaskan
“ampuni aku! Akan kuberikan semua hartaku! Tapi tolong jangan bunuh aku! Ampun!” Elzix memohon.
“bukan Jilli, tapi Billie” seru bayangan itu.
Jeryhn tampak memanjat pohon cemara dengan sangat susah payah, Billie tidak ditemukannya di mana mana, maka ia putuskan untuk melihat melalui ‘menara pengintai’ kepercayaan Billie. Walau dengan lecet di seluruh tubuhnya, Jeryhn berhasil melihat keindahan pemandangan desa yang selalu dilihat Billie, ia senang tapi juga sebal
“Billie! Dimana kau!” teriaknya keras. Kemudian dengan putus asa ia turun dan kembali mengumpulkan kayu bakar yang berserakan, gumannya
“bagaimanapun aku harus membalasmu!” dan ia berlari menuju desa.
“Ah, ya benar! Killi bukan?”
“Billie dan aku bukan perampok”
“Milli? Dan kau pencuri?”
“Billie dan aku bukan pencuri”
“Dill…”
“Billie! B! B! B! B!” teriaknya keras tepat di telinga Elzix
“oh, Billie. Ya, ya, aku sudah mendengar ceritamu, kau menyangkaku sebagai ayahmu bukan? Temanmu yang menceritakannya. Kudengar ayahmu mencari buah dewa, hm… Camolia?”
“Ambrosia”
“Barosia? Sepertinya kemarin tidak seperti itu kedengarannya”
“terserah” guman Billie
“lalu, apa yang kau inginkan dariku? Barang barangku sudah habis terjual, atau kau mau merampokku?”
“informasi. Ketika Warriv datang, ayah tahu tentang Ambrosia, dan kuharap kau sebagai pedagang juga membawa sebuah atau dua informasi yang berguna”
“informasi? Kau melakukan itu tadi semua cuma hanya kau ingin bertanya padaku? Yang benar saja! Masakan kamu tidak tertarik untuk mencuri uangku? Kamu kan pencuri”
“aku bukan pencuri pak tua!”
“pencuri!”
“bukan!”
“pencuri!”
“bukan!”
“penc…”
“jangan bercanda! Nyawa Liliam taruhannya!” bentakan tadi menghentikan perdebatan yang tidak ada gunanya itu, sejenak mereka berdua terdiam, memandang melalui mata masing masing, menatap tajam ke arah lawannya. Sejenak kemudian Elzix mulai merajuk, matanya berair dan mulai terisak.
“huh, tidak berguna!” Billie beranjak pergi,
“tunggu! Aku benar benar minta maaf! Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, aku benar benar…” Billie cuma menengok sedikit padanya
“lalu?” tanyanya,
“aku tidak punya” kali ini Billie menoleh,
“tidak punya?” Elzix bangkit berdiri dan berjalan menuju Billie, (air mata buaya-nya segera hilang)
“aku tidak punya informasi yang kau butuhkan. Aku ini seorang pemabuk yang hanya meringkuk dalam sebuah bar menuju bar lainnya. Aku bahkan baru pertama mendengar tentang buah dewa itu, meskipun di bar banyak rumor beredar, tapi baru pertama ini kudengar buah seaneh itu. Ditambah lagi Warriv tak pernah menceritakannya padaku. Mungkin dia pernah berkelana sebegitu jauh dan menemukan sebuah, tapi kalau dia hanya membawa informasi, kukira dia juga masih mencarinya” mendadak Elzix menjadi berwibawa dan tampak bersahaja.
“jadi… tetap saja tidak berguna” keluh Billie menghela nafas.
“tapi, apakah kau akan pergi seandainya kau mengetahui sesuatu tentang buah itu?”
“ya” jawab Billie pelan, dia memandang langit cerah dan menghela nafas,
“kalau ayah tidak berhasil, berarti aku yang harus meneruskan perjuangannya,aku tidak bisa hanya berdiam diri disini”
“lalu, siapa yang akan menjaga Liliam? Kau juga harus memikirkan tentang hal itu. Kudengar dari Hratli, Liliam hanya memanggil namamu, dan hanya bisa tenang apabila kau ada di sampingnya”
“Hratli dan penduduk desa akan menjaganya untukku, dan tampaknya Jeryhn menyukainya”
“kau yakin dia akan senang dengan hal itu? Liliam adalah wanita, dan wanita mempunyai hati yang rapuh, kau yakin ia tidak akan apa apa setelah kau tinggalkan?”
“jangan mendesakku! Bagiku juga berat meninggalkannya, tapi…” kepalan tangan Billie mengeras dan menghantam dinding,
“tapi kalau begini terus dia…” Elzix mengangkat tubuhnya dan menatap matanya dalam dalam.
“kau bertugas menjaga Liliam dan ayahmu bertugas mencari buah itu untuknya, mungkin saja ia sedang dalam perjalanan pulang sekarang, membayangkan bahwa ia akan disambut dengan senyum Liliam, dan kau tidak bisa membayangkan kalau dia tidak menemukanmu dan mengetahui bahwa kau hanya membuang nyawa di luar sana bukan?” Elzix berkata dengan tatapan mata yang sangat dalam, dan menepuk nepuk pundak Billie
“jangan meremehkanku!” Billie menepis tangan Elzix, “aku sudah cukup kuat untuk melakukan perjalanan! Kau kira selama dua tahun ini aku tidak berlatih? Aku sudah terlatih! Aku yakin bisa menghadapi dunia luar sana!”
“ dan kau tahu kenapa ayahmu menyuruhmu menunggui Liliam? Karena dunia luar sana lebih liar dari yang kau bayangkan, nak. Lebih berbahaya dari yang kau pikirkan, kau bisa mati di tangan perampok, pencuri dan penyamun yang akan meninggalkanmu tegeletak mati tanpa daya”
“lalu bagaimana denganmu? Warriv? Kalian tidak mati, kalian masih bisa hidup dan menikmati hidup ini, sedang Liliam tidak!” sebuah pukulan keras mendarat di rahang Billie, membuatnya jatuh tersungkur di tanah, pukulan itu merobek bibirnya dan darah segar mengalir di mulutnya, kemudian kerah Billie ditarik, mengangkatnya tepat dimuka Elzix,
“kau kira berapa banyak uang kukeluarkan untuk menyuap mereka? Warriv pun melakukan hal yang sama, perjalanan ini sangat berbahaya, apalagi untuk anak lemah sepertimu!” Elzix melemparnya ke tanah seperti barang tidak berguna,
“kalau begitu antar aku! Ajak aku berkelana! Lakukan sesuatu! Kau tidak bisa membiarkan Liliam terus begitu kan?”
“aku mengajakmu hanya untuk mengantar nyawamu ke neraka? Hanya di dalam mimpimu, nak!” setelah itu Elzix beranjak pergi dan masuk ke dalam gubuknya meninggalkan Billie yang hanya termenung di bawah matahari yang semakin meninggi di atasnya, dia termenung di sana cukup lama, sampai Jeryhn menemukannya,
“Kena kau! Ketemu juga kamu anak nakal! Kucari kamu kemana mana ternyata kamu bersembunyi disini. Sudahlah, ayo main, kali ini akan kubuat kau menyesal telah mempermainkan Jeryhn the Great! Ayo, aku melayani permainan apa saja, ayo majulah! Apa saja, kecuali berkelahi, karena kau pasti menang, ayo! Hey, tunggu. Kenapa bibirmu?” Billie hanya menggeleng pelan, dan kemudian beranjak menuju tempat kesukaannya, bukit cemara.
“kau terlalu keras padanya” kata Hratli pelan ditengah hujan badai yang mengguncang hari itu, Elzix cuma bersungut. Sejak saat Billie mendapat pukulan keras dari Elzix lima hari sebelumnya, dia terus berlatih di bukit cemara untuk meningkatkan kemampuannya, berbagai latihan dilakukannya, mulai dari berlari mengelilingi desa, angkat beban, memukul batang pohon, berburu sampai bermain pedang. Tiga hari yang lalu badai mulai bergelora di desa Crissant, (karena itulah Elzix belum juga pulang ke kotanya)
“kukira aku akan tinggal lebih lama di sini” kata Elzix sambil memandang ke jendela yang tertampar angin ribut.
“kukira kau tahu bahwa badai akan datang, jadi kau sengaja menyuruhku tinggal dulu disini bukan?” sahutnya lagi,
“aku tidak tahu apakah kau benar benar pedagang atau bukan, Elzix. Karena biasanya Warriv pun selalu saja datang kemari tepat saat badai akan datang, entah dia sengaja atau tidak. Dan, apakah kau sengaja atau tidak?” Hratli memandang ke luar jendela,
“dia belum kembali juga, aku khawatir dia terlalu memaksakan dirinya untuk latihan yang berlebihan, apalagi saat badai begini, aku ingin membujuknya tapi…”
“cuma Liliam yang ia dengarkan saat ini, bukan?” Hratli semakin cemas karena sebuah pohon kembali tumbang di kejauhan, sudah sekitar sepuluh buah pohon tumbang sejak hari pertama badai, Hratli mengkhawatirkan seandainya Billie kejatuhan pohon itu, dan berdoa supaya Billie diberi keselamatan.
“Quint menitipkannya padaku” Hratli mandesah,
“dua tahun yang lalu, hari itu Warriv datang pertama kali kemari, katanya ia tidak sengaja lewat untuk menghindari perampok, dan kebetulan barang barangnya belum laku terjual, (tapi di sini barangnya langsung habis terjual) dan seperti yang Billie lakukan padamu, Quint langsung mengejarnya, mencari sedikit saja informasi yang bisa meringankan penderitaan Liliam” Hratli memandang Elzix,
“kau benar benar tidak tahu sesuatu?”
“tentang Ambrosia? Sama sekali belum pernah mendengar, mungkin saja rumor itu tidak benar benar ada, dan Warriv cuma membual”
“tidak, waktu dia menceritakannya padaku, dan pada Quint, matanya memancarkan kejujuran, dan matanya juga memancarkan rasa belas kasihan, ia benar benar sayang pada Liliam kurasa, ataukah ia punya pengalaman yang bisa membuatnya sayang pada wanita?”
“huh, jika dia mau menceritakan tentang kisah cintanya padaku pasti aku sudah tahu tentang buah aneh itu” Hratli mengrenyitkan keningnya,
“berarti dia menyembunyikannya, aneh, ketika dia menceritakannya pada kami dia tampak besemangat dan…”
“kecuali dia mengetahui sesuatu, dan tujuannya kemari adalah memang mencari tahu tentang buah itu, dan kecuali yang di carinya sudah ketemu, ia tidak akan menceritakannya pada orang lain…”
“berarti Warriv tahu sesuatu”
“apakah dulu Quint pergi bersama Warriv?”
“tidak, Quint pergi saat badai seperti ini, setelah dia berpamitan pada Billie dan Liliam, juga aku dan penduduk desa”
“menurutku Warriv mengikutinya, dan karena sibuk mengikutinya, dia tidak sempat kembali kemari. Warriv sudah mengikuti Quint selama dua tahun!”
“tapi kenapa dia bisa kembali kemari selama beberapa bulan kemarin?”
“dia menyewa penguntit, tidak mungkin dia bisa mengikuti seseorang selama itu, tapi mungkin tahun ini penguntit itu mulai terlalu banyak tahu, dan terpaksa Warriv mengikutinya sendirian, dan menyuruhku menggantikannya kemari. Benar benar rencana yang sangat brilian!”
“kukira tadi itu semua cuma perkiraanmu saja” sahut Hratli
“tidak, separuhnya tadi cuma perkiraan, tapi soal dia menghadiri pernikahan sepupunya itu…”
“apa maksudmu?”
“dia tidak suka kerumunan banyak orang, dia hidup menyendiri, dia hanya mempunyai teman pemabuk sepertiku yang suka menganggur di bar, dia bahkan tidak menghadiri parade festival tahun lalu!”
“kalau begitu…”
“kalian sudah di tipunya. Penjahat licik itu memang…”
“tunggu, Quint pergi saat badai hari ketiga! Ya ampun! Jangan jangan Billie…”
“kita harus cepat mencarinya!”